Hukum dan Kriminal

Diduga Korban Bullying Orang Tua Santri di Poso Melapor Ke Polisi, Pimpinan Ponpes Angkat Bicara

SWARAQTA- Dugaan kasus bullying santri di Pondok Pesantren (Ponpes) Yayasan Buhari Baabul Khair Kabupaten Poso, Sulteng menjadi viral di media sosial Facebook. Orang tua santri yang menjadi korban mengaku telah membawa kasus ini ke ranah hukum menyusul dugaan bulliying yang menimpa anaknya.

Orang tua santri berinsial A (40) terpaksa membawa kasus ini ke ranah hukum karena kasus ini diduga sudah dua kali terjadi kepada anaknya.

Kepada wartawan Selasa (18/8/2025) orang tua korban AS (12), menyampaikan, jika awalnya ia mengetahui anaknya di bully karena menerima sepucuk surat yang ditulis oleh anaknya. Dari situ ia bersama suami kemudian mendatangi pondok pesantren tempat anaknya mondok, dengan maksud menjenguk sekaligus memastikan isi surat itu.

“Dalam suratnya, anak kami menulis bahwa ia sudah tidak tahan lagi berada di pondok karena mendapat perlakukan yang tidak baik. Baik oleh seniornya maupun sesama angkatannya,” ucap A orang tua AS.

la menambahkan, anaknya bahkan kerap disuruh berkelahi dengan temannya sendiri oleh kakak seniornya. Ironisnya jika tidak mau maka akan mendapat ancaman dari para seniornya.

Kata A orang tua korban, bahwa bukti dari semua itu menemukan luka memar di bagian lengan anaknya dan dibagian belakang yang mengakibatkan anaknya menjadi trauma, dan sudah tidak ingin lagi mondok di Pondok Pesantren tersebut.

“Sebagai orang tua, kami tentu tidak tega melihat anak kami diperlakukan seperti itu. Dan perlu diketahui bahwa ini merupakan kasus yang kedua kalinya menimpa anak kami. Awalnya kami sudah menyerahkan kasus ini ke pihak yayasan untuk diselesaikan. Namun karena masih terjadi lagi, makanya kami memutuskan untuk mengambil anak kami dan membawa kasus ini ke ranah hukum,” papar kedua orang tua AS.

Pimpinan Ponpes Yayasan Buhari Baabul Khair, Abdu Umar ditemui dilokasi membantah semua yang dituduhkan. Bahwa pengelola pesantren, tidak melakukan yang ditudukan kasus bullying yang terjadi dalam lingkungan Ponpes yang diasuhnya.

“Kita harus paham dulu seperti apa itu kasus bullying. Tidak ada kasus itu. Itu hanya dugaan orang tua santri saja,” tegas Abdu Umar.

Selain itu luka lebam yang disebutkan oleh orang tua anak, diakibatkan karena perkelahian semata antara para santri. Tidak benar jika disebutkan santri sengaja diadu berkelahi oleh para seniornya.

Sementara itu, Rabu (20/8/25) pimpinan Ponpes juga memanggil seluruh santri yang ada di Ponpes tersebut agar bisa bercerita langsung kepada rekan rekan media yang datang. “Silahkan tanyakan langsung jika kurang yakin pak,” sebutnya.

Abdu Umar Pimpinan sekaligus Pengelola Ponpes juga membantah jika kasus ini sudah terjadi dua kali kepada santri AS.

“Tidak benar jika dua kali terjadi pak. Perkelahian itu hanya terjadi sekali. Tolong ini diluruskan,” ujarnya sambil meminta salah seorang santri yang berkelahi dengan AS untuk menunjuk tangan.

Pihak Ponpes juga mengaku sudah mengetahui jika kasus ini telah dilaporkan ke Polres Poso. “Silahkan saja, itu hak setiap orang. Namun pada dasarnya apa yang disampaikan itu berbeda dengan fakta yang ada pada kami,” pungkasnya.

Kasus ini mulai mencuat setelah orang tua santri memposting luka lebam anaknya di media sosial Facebook (FB). Orang tua santri berharap agar kasus ini diproses sesuai ketentuan hukum yang berlaku, agar tidak terjadi lagi di kemudian hari.

Kasat Reskrim Polres Poso, IPTU I Made Deva dikonfirmasi membenarkan telah menerima laporan atas dugaan builling di Ponpes Buhari Baabul Khair, kini tengah melakukan penyelidikan.(RyN)

 

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

You cannot copy content of this page