Sosial Budaya

Program CSR Pertamina Patra Niaga FT Poso, Catat Keberhasilan Konservasi Pesisir dan Budidaya Kepiting di Pantai Popakuni

SWARAQTA- Komitmen pemulihan ekosistem pesisir dan penguatan kemandirian ekonomi masyarakat terus diperkuat melalui Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL/CSR) Sobat Mangrove Maroso yang diinisiasi oleh PT Pertamina Patra Niaga Fuel Terminal (FT) Poso. Sabtu (19/09/2026).

Tim Pertamina Patra Niaga FT Poso bersama mitra binaan sukses melaksanakan agenda Monitoring dan Evaluasi (Monev) terpadu di kawasan pesisir Pantai Popakuni, Kelurahan Mapane, Kecamatan Poso Pesisir, Kabupaten Poso, Sulteng.

Kegiatan evaluasi lapangan ini melibatkan kolaborasi erat antara tim Pertamina Patra Niaga FT Poso, Kelompok Nelayan Popakuni yang diketuai oleh Riswan Zakir, serta Komunitas Lokal Bahamast di bawah kepemimpinan Dahlia Andy Sindunrung.

Sinergi ini mengedepankan prinsip konservasi partisipatif berbasis komunitas (community-based coastal resource management), guna memastikan manfaat ekologis sekaligus ekonomi bagi warga Pesisir.

Berdasarkan hasil inspeksi langsung dan verifikasi data lapangan pada Sabtu (05/09/26), tercatat dua pencapaian utama yang menunjukkan kemajuan positif.

Kegiatan pertama yaitu uji coba Budidaya Kepiting Bakau, Kelangsungan Hidup 100% dan Prospek Panen Oktober 2026. Dimana program percontohan budidaya kepiting bakau ramah lingkungan yang dimulai sejak akhir Juni 2026 menunjukkan performa maksimal.

Dari 10 ekor bibit kepiting uji coba yang dibudidayakan di keramba alami, seluruhnya 100% berhasil hidup dan beradaptasi sangat baik dengan salinitas serta ekosistem lokal.

Melalui pemantauan bobot dan cangkang yang optimal, panen perdana diperkirakan siap terlaksana dalam kurun waktu satu bulan ke depan, yakni pada Oktober 2026, sebagai pembuka peluang diversifikasi pendapatan nelayan setempat.

Sementara kegiatan yang kedua terkait Konservasi 1.000 Bibit Mangrove, Terjaga Optimal Lewat Sistem Penyulaman Mandiri.

Perlu diketahui pemeriksaan terhadap 1.000 bibit mangrove yang telah ditanam sejak Maret 2026 menunjukkan tingkat resiliensi tinggi di sepanjang pesisir Pantai Popakuni.

Tingginya rasio kehidupan mangrove didukung oleh keaktifan Kelompok Nelayan Popakuni dalam menjalankan sistem penyulaman swadaya, setiap bibit yang rusak atau hanyut akibat hantaman ombak langsung diganti dengan bibit baru secara berkala.

Upaya ini berhasil menjaga kerapatan sabuk hijau pesisir sebagai benteng alami dari bahaya abrasi.

Kepada jurnalis, Community Development Officer (CDO) Pertamina Patra Niaga FT Poso, Muhamad Khanif Hidayatul Khasan, menegaskan, bahwa integrasi antara pelestarian lingkungan dan pemberdayaan ekonomi merupakan fondasi utama keberlanjutan program ini.

Menurutnya, monev terpadu pada 5 September ini membuktikan bahwa program CSR Sobat Mangrove Maroso bukan sekadar aksi penanaman seremonial. Keberhasilan 100 persen kelangsungan hidup uji coba kepiting sejak Juni serta stabilnya 1.000 bibit mangrove sejak Maret memperlihatkan tumbuhnya rasa kepemilikan masyarakat.

“Kami ingin memastikan inisiatif Pertamina Patra Niaga FT Poso ini bermuara pada ketahanan lingkungan sekaligus kemandirian ekonomi masyarakat pesisir Popakuni,” ucapnya.

Menurut, Lead Operator I HSSE, Fleet Safety & General Operation Support Pertamina Patra Niaga FT Poso, Andi Rian Hidayat, jika aspek HSSE dan keberlanjutan operasi menjadi prioritas dalam setiap pendampingan masyarakat.

Pihaknya sangat mengapresiasi kedisiplinan dan kolaborasi rekan-rekan nelayan dan komunitas dalam memelihara keramba serta area restorasi secara aman, teratur, dan berwawasan lingkungan. Standar keselamatan dan kepedulian ekosistem yang diterapkan di Popakuni ini menjadi modal penting untuk keberhasilan fase-fase berikutnya.

Sementara itu, Ketua Komunitas Lokal Bahamast, Dahlia Andy mengapresiasi konsistensi pendampingan yang diberikan Pertamina Patra Niaga FT Poso kepada masyarakat lokal.

Kata Dahlia, pendampingan berkala seperti monitoring hari ini memberikan ruang belajar yang sangat bernilai bagi kami. Komunitas Bahamast bersama warga terus mengawal agar ekosistem mangrove di Mapane tetap lestari.

“Melihat bibit kepiting tumbuh sehat dan siap panen bulan depan memberikan optimisme besar bahwa konservasi dan ekonomi masyarakat dapat berjalan beriringan,” ungkap Dahlia.

Sementara itu, Ketua Kelompok Nelayan Popakuni, Riswan Zakir, mengungkapkan komitmen anggotanya di garis depan pengawasan

“Bagi kami nelayan Popakuni, merawat mangrove adalah ikhtiar menjaga masa depan pantai kami. Sejak ditanam Maret lalu, jika ada bibit yang patah atau terbawa arus, kami langsung ganti dan sulam secara mandiri. Kami juga antusias menantikan panen perdana kepiting uji coba pada Oktober nanti, karena ini membuktikan bahwa nelayan bisa memiliki penghasilan tambahan tanpa harus merusak alam,” jelasnya.

Melalui hasil positif monitoring ini, Pertamina Patra Niaga FT Poso bersama Komunitas Bahamast dan Kelompok Nelayan Popakuni telah memetakan rencana kerja strategis lanjutan, antara lain menyiapkan tata kelola panen perdana kepiting bakau pada Oktober 2026 beserta evaluasi bobot dan mutu jual.

Selain itu mengkaji skema replikasi penambahan keramba budidaya, guna memperluas skala penerima manfaat bagi anggota kelompok nelayan serta, melanjutkan monitoring pertumbuhan mangrove dan penjagaan kebersihan pesisir dari sampah laut secara berkelanjutan.(Ryandar)

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

You cannot copy content of this page