Mengintip Realita Harga Ayam di Pasar: Antara Mekanisme Pasar dan Aturan Pemerintah
SWARAQTA-Kelompok kami baru saja menyelesaikan observasi lapangan terkait fluktuasi harga ayam potong. Ternyata, kondisi di lapangan menunjukkan fakta menarik mengenai rantai distribusi dan penerapan Harga Eceran Tertinggi (HET).
Berdasarkan data yang dihimpun, harga ayam sangat bervariasi tergantung ukuran dan sumbernya:
– Ayam Jumbo (±3 kg): Rp80.000 – Rp85.000
– Ayam Ukuran Sedang (2,4 kg – 2,6 kg): Rp60.000 – Rp75.000
– Harga di Tingkat Hulu: Rp15.000 (Pengepul) hingga Rp20.000 (Produsen) per kg.
Rantai distribusi yang panjang, terjadi lonjakan harga signifikan dari pengepul ke pedagang pasar yang disinyalir karena tingginya biaya transportasi dan margin keuntungan di setiap tahap.
Kami melihat bagaimana pemahaman pedagang terhadap HET. Hasilnya salah satu dari pedagang mengatakan bahwa “sebagian besar pedagang tidak mengetahui secara detail mengenai angka HET yang ditetapkan pemerintah” kata Pak Arifin salah satu pedagang.
Dalam praktik sehari-hari, mereka lebih mengandalkan perhitungan sederhana, seperti harga beli dari pemasok, biaya operasional, serta kondisi permintaan dan penawaran di pasar. Hal ini menunjukkan bahwa mekanisme pasar ditingkat lokal masih sangat dipengaruhi oleh interaksi sosial, bukan hanya regulasi formal.
Saat ini, pasar ayam masih berjalan secara bebas dan belum sepenuhnya terkontrol sesuai standar pemerintah. Untuk menciptakan harga yang adil bagi pedagang maupun pembeli, diperlukan yaitu.
1. Sosialisasi masif mengenai regulasi HET kepada para pedagang.
2. Pengawasan distribusi yang lebih ketat dari hulu ke hilir.
3. Transparansi harga agar tidak terjadi permainan harga di tingkat tertentu.
Mari kita dukung terciptanya ekosistem perdagangan yang sehat dan transparan.
Editor : Ryan Darmawan
Laporan : tugas Kelompok Basudara Peserta Intermediate Training (LK II) HMI Cabang Poso.
Hari/Tanggal: Minggu, 26 April 2026
Lokasi Observasi: Pasar Sentral Poso



