Dampak Musim Kemarau, Petani di Poso Pesisir Sulit Panen
SWARAQTA- Sejumlah petani, gagal panen di Poso Pesisir pada tahun 2026 dipicu utamanya oleh ancaman kekeringan musim kemarau dan kendala infrastruktur irigasi.
Moh. Faisal warga Desa Kilo mengatakan, pada periode September-Oktober 2026 puluhan hektare lahan pertanian di wilayah Poso Pesisir Bersaudara terancam mengalami puso (gagal panen) akibat kurangnya pasokan air.
Faktor utama yang menyebabkan kondisi pertanian di Poso Pesisir rentan gagal panen meliputi dampak musim kemarau.
“Fenomena penurunan curah hujan di paruh kedua tahun 2026 membuat ketersediaan air tanah menyusut drastis,” ungkapnya, Selasa (20/10/2026).
Faisal menyebutkan, infrastruktur irigasi yang rusak mengakibatkan kerusakan berat pada bendungan dan saluran irigasi lokal membuat sistem pengairan tidak berfungsi optimal secara menyeluruh, sehingga petani sangat bergantung pada curah hujan musiman.
Bahkan pemerintah daerah melalui Dinas Pertanian Kabupaten Poso terus mengimbau para penyuluh lapangan dan kelompok tani untuk mengoptimalkan sumber air yang tersisa serta menyesuaikan pola tanam guna memitigasi risiko kerugian yang lebih besar.
Sementara itu akibat musim kemarau, terjadi kebakaran lahan perkebunan milik warga di Desa Betalemba Kecamatan Poso Pesisir Selatan (PPS) Kabupaten Poso. Setidaknya satu hektar tanaman kakao habis dilalap api.
Om Mus, warga setempat, mengaku tidak tahu pasti penyebab dari pada kebakaran tersebut. Namun, muncul dugaan bahwa sumber api berasal dari aktivitas warga di sekitar lokasi.
“Belum bisa dipastikan penyebabnya, namun kemungkinan api berasal dari aktivitas warga,” ujarnya, Senin (19/10/2026).
Beruntung, kobaran api berhasil di padamkan warga sebelum merembet lebih luas ke lahan milik warga lainnya. Mengingat kondisi cuaca yang kering, warga mengimbau seluruh masyarakat khususnya yang beraktivitas di area perkebunan agar meningkatkan kewaspadaan dan tidak membakar sampah atau lahan secara sembarangan.(Ryandar)



