SP Poso Peringati Hari Keadilan Ekologis 2026, Perempuan Penting Pertahankan Sumber Penghidupan
SWARAQTA- Memperingari Hari Keadilan Ekologis 2026, Solidaritas Perempuan bersama dengan orang muda melakukan pembentangan spanduk dengan tema “Dari Tapak untuk Keadilan Ekologis Antargenerasi, Menagih Keadilan Ekologis di Tanah Sulawesi Tengah”.
Kegiatan berlangsung didepan kantor Bupati Poso, Kelurahan Gebang Rejo, Minggu (20/9/2026).
Aksi ini dilakukan bentuk komitmen bersama untuk memperjuangkan keadilan ekologis di tanah Poso, Sulawesi Tengah.
Untuk diketahui, Sulawesi Tengah sedang menghadapi tekanan ekologis yang semakin serius. Kekayaan hutan, sungai, danau, pesisir, laut, dan sumber daya alam terus berhadapan dengan ekspansi industri ekstraktif, pertambangan, perkebunan, infrastruktur, dan pembangunan energi.
Perubahan bentang alam tersebut tidak hanya mengancam ekosistem, tetapi juga sumber penghidupan dan ruang hidup masyarakat.
Ketua Badan Eksekutif Komunitas (BEK) Solidaritas Perempuan (SP) Poso, Sofianty menyampaikan, jika di berbagai kabupaten di Sulawesi Tengah, krisis ekologis dan perubahan bentang alam semakin nyata.
Sementara di Kabupaten Poso, dalam pembangunan dan pengembangan energi hidro. PLTA Poso Energy merupakan bagian dari pengembangan energi hidro yang ditempatkan dalam kerangka penyediaan energi dan transisi menuju energi yang lebih rendah karbon. Namun, transisi energi tidak seharusnya berhenti pada persoalan pengurangan emisi.
Sofianty menyebutkan, transisi energi harus memastikan bahwa proses pembangunan tidak menghasilkan ketidakadilan baru bagi masyarakat yang tinggal di sekitar proyek.
Sulewana, menjadi salah satu gambaran nyata. Atas nama pembangunan energi dan transisi energi, masyarakat menghadapi kerusakan rumah, tempat ibadah, kebun, sungai, serta terganggunya sumber penghidupan. Situasi ini menegaskan satu hal energi bersih tidak boleh dibangun dengan mengorbankan manusia dan alam.
“Bagi perempuan, kerusakan ekologis tidak berhenti pada hilangnya tanah, air, pangan, dan sumber pendapatan. Ketika sumber kehidupan semakin sulit diakses, beban kerja reproduktif perempuan justru semakin berat mencari dan menyediakan air, memastikan pangan keluarga, merawat anggota keluarga yang sakit, mengelola rumah tangga, hingga menanggung meningkatnya kebutuhan hidup,” ungkapnya.
Kata Ketua SP Poso, dampak kerusakan lingkungan juga memiliki dimensi gender yang sering kali tidak terlihat dalam perhitungan pembangunan yang semakin meluas.
Perempuan memiliki peran besar dalam memastikan keberlangsungan kehidupan keluarga, termasuk menyediakan pangan, air, menjaga kesehatan keluarga, mengelola kebutuhan rumah tangga, dan mempertahankan sumber penghidupan.
Dalam momentum Hari Keadilan Ekologis, Solidaritas Perempuan (SP) Sintuwu Raya Poso menegaskan, bahwa masyarakat Sulewana berhak memperoleh lingkungan yang aman dan sehat, akses terhadap informasi, partisipasi bermakna dalam setiap pengambilan keputusan, serta pemulihan atas kerusakan yang telah terjadi.(Ryandar)



